Tak Setega Dirimu
Terlihat sudah dari atas kalimat,
Ku ceritakan kisah penuh dengan
rintih-rintih lirih.
Tentang mereka…
Yang selalu kau puji dalam bait lagu,
namun kau maki tanpa ragu.
Yang kau umpamakan sebagai pelita,
namun tak kau harapkan kehadirannya.
Yang kau elukan sebagai pahlawan tanpa tanda jasa,
hingga benar-benar kau lupakan jasanya.
Tentang mereka…gurumu
Tersirat namun jelas setiap perlakuanmu,
menyingkirkan, meniadakan.
Beliau menegur,
tak setega dirimu yang memukul.
Beliau menahan kata-perkata mengendap
hingga keluar nyatanya tertahan.
Tak setega dirimu, kawan…
Lamat-lamat riak menggumpal,
urat-urat leher kuat mengikat,
kau tunjukkan dihadapannya.
Tanpa malu bahwa dari dirinya
kau mengerti bagaimana cara berbicara.
Bukan untuk meninggikan suaramu, namun derajatmu
ku beritahu.
Meski sakit,
meski berat,
meski sekarat,
dia lewati jalan setapak itu.
Dia hiraukan matanya
yang tak lagi bebas menangkap
cahaya.
Tubuhnya yang tak lagi tegap menantang dunia.
Dia menghampirimu hanya karena dia tahu
masa depan ada ditanganmu.
Sementara kau… Kau yang menjadi topangan
tubuh rentanya.
Dengan kata tanpa ragu beradu suara.
Tubuh gurumu sudah terbujur kaku di peraduan.
Kata-kata tak pantasmu telah tertelan di kerongkongan.
Takkan ada lagi seseorang yang pantas kau hormati.
Hanya ada setapak terjal yang kau lalui sendiri,
dengan pepohonan yang semakin berkurang untuk bersaksi,
bagaimana hidupmu tanpa petunjuk diri?
Puisi ini sekalipun pernah dibaca,
layaknya ayat atau pasal hukum
ia tak serta merta menghentikan.
Ku hanya berharap kau menyesal
dan kembali menghormati
Sang penggerak mimpi-mimpi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar