Senin, 14 Januari 2019

Cinta Guru



Memperbaiki garis putih yang memudar
Luasnya jalan setapak tak pernah terlihat sempit untuk mimpi-mimpi itu
Kamu satu-satunya yang percaya
Bahkan saat dunia hanya bisa membandingkan kami dengan pemenang
Bukan pejuang…
Kamu  satu-satunya yang tetap ada
bahkan saat pemberitaan di dunia maya tentang kami penuh noda
Kamu satu-satunya yang tetap tersenyum
bahkan saat kami menyerah untuk menemukan bahagia
Kamu tetap berada di tempat kami berada
meski hinaan dan cacian mampu mengalahkan tekad untuk tetap mengajar
salah satu alasan tak pernah sering kuucapkan  ‘terimakasih’ meski ingin
adalah cinta yang tak pernah butuh kata
kadang kurasa belum cukup puisi
kau butuh yang pasti
kami sedang mengusahakan…percayalah bahwa apa yang tersampaikan
tak pernah terabaikan
ku tulis puisi ini sebagai jembatan antara hati dan rasa
yang terpenjara masa kalau-kalau kalian berputus asa
ingatlah bahwa setidaknya kau pernah memberi kepada kami
dan itu adalah hal berarti bagi kami

-Puisi yang tercipta ketika malam setelah perayaan hari guru

Tidak ada komentar:

Aku tak pernah kau anggap sebagai rumah

Di dunia yang ramai, terlalu banyak godaan Meski pada awal perjalanan kita diberi gambaran Melewati petunjuk berupa rambu-rambu yang memenuh...