Kendala
dalam menatap masalah
Ibarat
menyapu debu di lapangan gersang
Tak kan ada
habisnya
Laba-laba
yang memasang jarring tak pernah acuh pada mangsa
Ia
menunggu, terjerat, lalu mengisapnya
Saat ini
masih ada yang berpesta
Ditemani
gemerlap lampu dan musik-musik gembira
Sampai
sosok itu datang, dan kita menangis
Malaikat
maut berkata,
“sudah
waktunya pulang”
Kecenderungan
hati manusia sering berpihak pada fatamorgana
Lalu
meminang dewa-dewa yang sebenarnya setan-setan menjelma malaikat-malaikat
Kau sanding
pendidikan lebih baik
Mobil-motor
lebih canggih
Pasangan
lebih sempurna
Tapi
mendengar remaja menuntut ilmu agama kau murka
Tidakkah
kau sadar
Bahwa
kuburmu terbuka liang luas
Mengatup
lalu menyempit buas
Puas?
Tapi aku
tak ingin puisiku hanya berakhir seperti ini
Aku ingin
melanjutkannya sampai benar-benar berakhir bahagia
Aku mau
semua orang menjadi tokoh protagonis
Tidak hanya
menjadi pemeran pembantu yang datang membuat kita menangis
Walau
akhirnya air mata menjelma menjadi kekuatan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar