Senin, 14 Januari 2019

Pengamat Manusia




Kendala dalam menatap masalah
Ibarat menyapu debu di lapangan gersang
Tak kan ada habisnya

Laba-laba yang memasang jarring tak pernah acuh pada mangsa
Ia menunggu, terjerat, lalu mengisapnya

Saat ini masih ada yang berpesta
Ditemani gemerlap lampu dan musik-musik gembira
Sampai sosok itu datang, dan kita menangis
Malaikat maut berkata,
“sudah waktunya pulang”

Kecenderungan hati manusia sering berpihak pada fatamorgana
Lalu meminang dewa-dewa yang sebenarnya setan-setan menjelma malaikat-malaikat
Kau sanding pendidikan lebih baik
Mobil-motor lebih canggih
Pasangan lebih sempurna
Tapi mendengar remaja menuntut ilmu agama kau murka

Tidakkah kau sadar
Bahwa kuburmu terbuka liang luas
Mengatup lalu menyempit buas
Puas?

Tapi aku tak ingin puisiku hanya berakhir seperti ini
Aku ingin melanjutkannya sampai benar-benar berakhir bahagia
Aku mau semua orang menjadi tokoh protagonis
Tidak hanya menjadi pemeran pembantu yang datang membuat kita menangis
Walau akhirnya air mata menjelma menjadi kekuatan

Cinta Guru



Memperbaiki garis putih yang memudar
Luasnya jalan setapak tak pernah terlihat sempit untuk mimpi-mimpi itu
Kamu satu-satunya yang percaya
Bahkan saat dunia hanya bisa membandingkan kami dengan pemenang
Bukan pejuang…
Kamu  satu-satunya yang tetap ada
bahkan saat pemberitaan di dunia maya tentang kami penuh noda
Kamu satu-satunya yang tetap tersenyum
bahkan saat kami menyerah untuk menemukan bahagia
Kamu tetap berada di tempat kami berada
meski hinaan dan cacian mampu mengalahkan tekad untuk tetap mengajar
salah satu alasan tak pernah sering kuucapkan  ‘terimakasih’ meski ingin
adalah cinta yang tak pernah butuh kata
kadang kurasa belum cukup puisi
kau butuh yang pasti
kami sedang mengusahakan…percayalah bahwa apa yang tersampaikan
tak pernah terabaikan
ku tulis puisi ini sebagai jembatan antara hati dan rasa
yang terpenjara masa kalau-kalau kalian berputus asa
ingatlah bahwa setidaknya kau pernah memberi kepada kami
dan itu adalah hal berarti bagi kami

-Puisi yang tercipta ketika malam setelah perayaan hari guru

Minggu, 06 Januari 2019

Cerita dari Langit

"Cerita dari Langit"




Langit,
Lagi-lagi aku menyebutmu dalam sajakku
Kali ini
Ku dengar kau  sudah bercerita banyak
Tentang apa yang kamu lihat dari atas sana
Tentang bagaimana kamu mengabarkan apa yang kamu ketahui
Dengar, sebab aku takut kamu kecewa
Saat kamu berpikir isyaratmu tak terlihat kamu salah
Mereka melihatnya dengan mata terbuka
Namun sayangnya dengan hati yang tertutup
Sungguh terkadang aku ingin menghiburmu namun ku tahu kau sudah dihibur dengan hakikat yang sebenarnya
Janji-Nya sudah cukup membuatmu yakin untuk menyelesaikan tugasmu
Meski aku sempat berpikir kita adalah helai dedaunan yang saling melindungi
Sayangnya, aku hanyalah sebuah tanah bagimu
Sederhana saja, kita adalah ciptaan-Nya
Maka sudah menjadi kewajiban kita untuk melaksanakan perintahn-Nya
Begitu juga kau
Tak adil rasanya jika kami mengadilimu

- sajakku pada 7 Januari yang pertama


Aku tak pernah kau anggap sebagai rumah

Di dunia yang ramai, terlalu banyak godaan Meski pada awal perjalanan kita diberi gambaran Melewati petunjuk berupa rambu-rambu yang memenuh...