"Cinta Halal adalah Cinta yang Abadi"
Penulisan
artikel dalam rangka mengikuti “lomba menulis halal writer”
Nama
lengkap saya adalah Enthy Sulistya Suci Wulandari, biasa dipanggil Enthy. Lahir
di Sukoharjo, 26 Mei 2000. Saat ini kesibukan saya yaitu kuliah, bekerja
sebagai guru homeschooling, dan kajian rutin sebagai murid dan juga mentor.
Menulis merupakan hobi saya sedari kecil, namun dewasa ini saya berusaha
menjadikan menulis tidak hanya sebagai hobi tetapi juga jalan hidup yaitu
berharap tulisan saya bisa bermanfaat bagi orang lain. Seperti tulisan saya
kali dalam bentuk artikel yang insyaAllah bermanfaat berjudul Cinta yang halal
adalah cinta yang abadi .
Cinta
halal adalah cinta yang didasarkan kepada kecintaan terhadap Allah. Cinta
kepada Allah adalah sebuah kewajiban, yang wajib kita dahulukan di atas semua
jenis cinta. Ulama telah menjelaskan bahwa Hubbullah (cinta Allah) adalah pokok
dari seluruh kecintaan yang baik karena mencintai sesuatu itu mengharuskan kita
untuk mencintai perkara yang dicintai oleh sesuatu tersebut. Maksudnya, bahwa
dalam kehidupan seorang muslim, dasar aktivitasnya adalah Hubbullah (mencintai
Allah), sedangkan mencintai Allah berkonsekuensi mencintai segala yang dicintai
oleh-Nya. Sehingga tentulah dalam mencintai makhluk-Nya harus didasarkan cinta
terhadap Allah terlebih dahulu sehingga cara kita mencintai seorang makhluk
tidaklah akan bertentangan dengan hukum Allah. Itulah pokok keimanan, yaitu
ketika Allah adalah segalanya baginya dengan menomorsatukan cinta Allah dan
mengalahkan seluruh bentuk kecintaan lainnya yang bertentangan dengan hukum
Allah.
Cinta
halal adalah cinta yang timbul dalam rangka untuk dan karena Allah, dan karena
ingin menjadikannya sebagai jalan ibadah. Islam tidak melarang seseorang untuk
mencintai. Alih-alih Islam mengakuinya, menerimanya, dan mendorongnya dalam
cara yang terbaik. Jalan alternatif terbaik yang dituntunkan Islam adalah
melegalisasikannya dalam ikatan pernikahan. Begitulah cinta yang halal. Nabi
Muhammad Saw bersabda, “Tidak ada yang sebaik pernikahan bagi dua orang yang
saling mencintai satu sama lain.” (H.R. Ibn Majah)
Dalam
Islam, cinta adalah hal yang halal dan diridhoi selagi cinta tersebut dalam
jalur Islam. Cinta yang halal adalah cinta kepada-Nya dan cinta karena-Nya. Skenario
Allah mengenai cinta adalah skenario paling indah karena Allah sudah
mengingatkan kita untuk tidak jatuh cinta pada yang belum pasti. Allah meminta
kita jatuh cinta dengan orang yang sudah berjanji dengan-Nya untuk membersamai
kita mewujudkan visi hidup kita. Itu adalah cinta halal yaitu satu-satunya
cinta dalam Islam. Cinta yang sebenarnya bukan hanya tentang perasaan, tapi
yang utama adalah perjalanan dimana kita mencari pasangan yang bisa dijadikan
teman untuk berjalan bersama sampai ke syurga. Cinta yang minim luka karena sudah
diatur oleh hukum Allah sedemikian rupa. Siapa lagi kemudian yang lebih
memahami seorang ciptaan dibanding penciptanya?
Cinta
halal adalah cinta yang abadi. Cinta abadi tidak kenal hari, bulan dan tempat.
Namun cinta abadi adalah cinta yang dilandasi oleh iman hingga hari akhir
nanti. Allah berfirman, “Orang yang saling mencintai pada hari itu (hari
kiamat) akan saling memusuhi kecuali orang-orang yang cintanya karena alasan
takwa” (Q.S AZ-Zukhruf : 67). Dari sini dapat kita pahami bahwa cinta sejati sehidup
se-syurga hanya akan kita dapati jika kita mencintai seseorang dengan takwa,
dengan cara yang Allah tuntunkan dan tidak dengan cara-cara yang Allah
haramkan. Maka jika kita mencintai seseorang dan ingin bersama dengannya
selamanya, sudah pasti menikah adalah jalan satu-satunya. Karena tidak ada
cinta yang abadi selain dengan jalan yang Allah Ridhoi.
Cinta
yang abadi sampai hari akhir akan terwujud jika cinta tersebut berlandaskan
takwa, bukan rupa dan harta. Para ulama’ sejarah mengisahkan, pada suatu hari
Abdurrahman bin Abi Bakar r.a bepergian ke Syam untuk berniaga. Di tengah
jalan, ia melihat seorang wanita berbadan semampai, cantik nan rupawan bernama
Laila bintu Al Judi. Tanpa diduga dan dikira, panah asmara Laila melesat dan
menghujam hatinya. Karena begitu sering ia menyebut nama Laila, sampai sampai
Khalifah Umar bin Khattab r.a merasa iba
kepadanya. Sehingga tatkala beliau mengutus pasukan perang untuk menundukkan
negeri Syam, ia berpesan kepada panglima perangnya: bila Laila bintu Al Judi termasuk
salah satu tawanan perangmu (Sehingga menjadi budak), maka berikanlah kepada
Abdurrahman r.a. dan subhanallah, takdir Allah setelah kaum muslimin berhasil
menguasai negeri Syam, didapatkan Laila termasuk salah satu tawanan perang.
Bisa dibayangkan betapa senangnya Abdurrahman, begitu cintanya ia kepada Laila
sampai-sampai ia melupakan istri-istrinya yang lain. Akan tetapi tidak begitu
lama Laila ditimpa penyakit yang menyebabkan bibirnya jatuh sehingga giginya
selalu Nampak. Sejak itulah, cinta Abdurrahman luntur dan bahkan sirna.
Abdurrahman tidak lagi sudi memandang Laila dan selalu bersikap kasar
kepadanya. Sebab rupa ataupun harta bukanlah hal kekal, sehingga cinta karena
hal tersebut tidak akan kekal pula. Maka mencintailah karena Allah, sebab Allah
satu-satunya yang abadi sehingga cinta karena-Nya adalah cinta yang abadi juga.
Hal ini
sejalan dengan ilmu pengetahuan, seorang peneliti dari Researchers at National
Autonomous University of Mexico mengungkapkan hasil risetnya yang begitu mengejutkan.
Menurutnya, sebuah hubungan cinta pasti akan menemui titik jenuh, bukan hanya
karena faktor bosan semata, tapi karena kandungan zat kimia di otak yang
mengaktifkan rasa cinta itu telah habis. Rasa tergila-gila dan cinta pada
seseorang tidak akan bertahan lebih dari 4 tahun. Jika telah berumur 4 tahun,
cinta sirna. Menurutnya, rasa tergila-gila muncul pada awal jatuh cinta
disebabkan oleh aktivasi dan pengeluaran komponen kimia spesifik di otak,
berupa hormon dopamine, endorfin, feromon oxytocin, neuropinephrine yang
membuat seseorang merasa bahagia, berbunga-bunga dan berseri-seri. Akan tetapi
seiring berjalannya waktu, dan terpaan badai tanggung jawab dan dinamika
kehidupan efek hormon-hormon itu berkurang lalu menghilang (www.detik.com Rabu, 09/12/2009 17:45
WIB). Sehingga dapat disimpulkan bahwa jika kita mencintai kemudian hanya ingin
menghabiskan waktu dengan seseorang yang kita cintai tidaklah akan bertahan
lama, mencintailah dengan tujuan besar di jalan Allah yang akan membuat kita
senantiasa memiliki alasan untuk bersama.
Sekian, semoga tulisan saya bermanfaat untuk disampaikan
kepada khayalak ramai.
Alhamdulillah saya mengikuti lomba menulis artikel. Ikut event ini jadi pengen lebih mendalami seperti apa sih halal lifestyle atau halal relationship dalam Islam secara mendetail.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar