Selasa, 29 Juni 2021

Cinta Halal adalah Cinta yang Abadi

 "Cinta Halal adalah Cinta yang Abadi"




Penulisan artikel dalam rangka mengikuti “lomba menulis halal writer”

Nama lengkap saya adalah Enthy Sulistya Suci Wulandari, biasa dipanggil Enthy. Lahir di Sukoharjo, 26 Mei 2000. Saat ini kesibukan saya yaitu kuliah, bekerja sebagai guru homeschooling, dan kajian rutin sebagai murid dan juga mentor. Menulis merupakan hobi saya sedari kecil, namun dewasa ini saya berusaha menjadikan menulis tidak hanya sebagai hobi tetapi juga jalan hidup yaitu berharap tulisan saya bisa bermanfaat bagi orang lain. Seperti tulisan saya kali dalam bentuk artikel yang insyaAllah bermanfaat berjudul Cinta yang halal adalah cinta yang abadi .

Cinta halal adalah cinta yang didasarkan kepada kecintaan terhadap Allah. Cinta kepada Allah adalah sebuah kewajiban, yang wajib kita dahulukan di atas semua jenis cinta. Ulama telah menjelaskan bahwa Hubbullah (cinta Allah) adalah pokok dari seluruh kecintaan yang baik karena mencintai sesuatu itu mengharuskan kita untuk mencintai perkara yang dicintai oleh sesuatu tersebut. Maksudnya, bahwa dalam kehidupan seorang muslim, dasar aktivitasnya adalah Hubbullah (mencintai Allah), sedangkan mencintai Allah berkonsekuensi mencintai segala yang dicintai oleh-Nya. Sehingga tentulah dalam mencintai makhluk-Nya harus didasarkan cinta terhadap Allah terlebih dahulu sehingga cara kita mencintai seorang makhluk tidaklah akan bertentangan dengan hukum Allah. Itulah pokok keimanan, yaitu ketika Allah adalah segalanya baginya dengan menomorsatukan cinta Allah dan mengalahkan seluruh bentuk kecintaan lainnya yang bertentangan dengan hukum Allah.

Cinta halal adalah cinta yang timbul dalam rangka untuk dan karena Allah, dan karena ingin menjadikannya sebagai jalan ibadah. Islam tidak melarang seseorang untuk mencintai. Alih-alih Islam mengakuinya, menerimanya, dan mendorongnya dalam cara yang terbaik. Jalan alternatif terbaik yang dituntunkan Islam adalah melegalisasikannya dalam ikatan pernikahan. Begitulah cinta yang halal. Nabi Muhammad Saw bersabda, “Tidak ada yang sebaik pernikahan bagi dua orang yang saling mencintai satu sama lain.” (H.R. Ibn Majah)

Dalam Islam, cinta adalah hal yang halal dan diridhoi selagi cinta tersebut dalam jalur Islam. Cinta yang halal adalah cinta kepada-Nya dan cinta karena-Nya. Skenario Allah mengenai cinta adalah skenario paling indah karena Allah sudah mengingatkan kita untuk tidak jatuh cinta pada yang belum pasti. Allah meminta kita jatuh cinta dengan orang yang sudah berjanji dengan-Nya untuk membersamai kita mewujudkan visi hidup kita. Itu adalah cinta halal yaitu satu-satunya cinta dalam Islam. Cinta yang sebenarnya bukan hanya tentang perasaan, tapi yang utama adalah perjalanan dimana kita mencari pasangan yang bisa dijadikan teman untuk berjalan bersama sampai ke syurga. Cinta yang minim luka karena sudah diatur oleh hukum Allah sedemikian rupa. Siapa lagi kemudian yang lebih memahami seorang ciptaan dibanding penciptanya?

Cinta halal adalah cinta yang abadi. Cinta abadi tidak kenal hari, bulan dan tempat. Namun cinta abadi adalah cinta yang dilandasi oleh iman hingga hari akhir nanti. Allah berfirman, “Orang yang saling mencintai pada hari itu (hari kiamat) akan saling memusuhi kecuali orang-orang yang cintanya karena alasan takwa” (Q.S AZ-Zukhruf : 67). Dari sini dapat kita pahami bahwa cinta sejati sehidup se-syurga hanya akan kita dapati jika kita mencintai seseorang dengan takwa, dengan cara yang Allah tuntunkan dan tidak dengan cara-cara yang Allah haramkan. Maka jika kita mencintai seseorang dan ingin bersama dengannya selamanya, sudah pasti menikah adalah jalan satu-satunya. Karena tidak ada cinta yang abadi selain dengan jalan yang Allah Ridhoi.

Cinta yang abadi sampai hari akhir akan terwujud jika cinta tersebut berlandaskan takwa, bukan rupa dan harta. Para ulama’ sejarah mengisahkan, pada suatu hari Abdurrahman bin Abi Bakar r.a bepergian ke Syam untuk berniaga. Di tengah jalan, ia melihat seorang wanita berbadan semampai, cantik nan rupawan bernama Laila bintu Al Judi. Tanpa diduga dan dikira, panah asmara Laila melesat dan menghujam hatinya. Karena begitu sering ia menyebut nama Laila, sampai sampai Khalifah Umar bin Khattab r.a  merasa iba kepadanya. Sehingga tatkala beliau mengutus pasukan perang untuk menundukkan negeri Syam, ia berpesan kepada panglima perangnya: bila Laila bintu Al Judi termasuk salah satu tawanan perangmu (Sehingga menjadi budak), maka berikanlah kepada Abdurrahman r.a. dan subhanallah, takdir Allah setelah kaum muslimin berhasil menguasai negeri Syam, didapatkan Laila termasuk salah satu tawanan perang. Bisa dibayangkan betapa senangnya Abdurrahman, begitu cintanya ia kepada Laila sampai-sampai ia melupakan istri-istrinya yang lain. Akan tetapi tidak begitu lama Laila ditimpa penyakit yang menyebabkan bibirnya jatuh sehingga giginya selalu Nampak. Sejak itulah, cinta Abdurrahman luntur dan bahkan sirna. Abdurrahman tidak lagi sudi memandang Laila dan selalu bersikap kasar kepadanya. Sebab rupa ataupun harta bukanlah hal kekal, sehingga cinta karena hal tersebut tidak akan kekal pula. Maka mencintailah karena Allah, sebab Allah satu-satunya yang abadi sehingga cinta karena-Nya adalah cinta yang abadi juga.

Hal ini sejalan dengan ilmu pengetahuan, seorang peneliti dari Researchers at National Autonomous University of Mexico mengungkapkan hasil risetnya yang begitu mengejutkan. Menurutnya, sebuah hubungan cinta pasti akan menemui titik jenuh, bukan hanya karena faktor bosan semata, tapi karena kandungan zat kimia di otak yang mengaktifkan rasa cinta itu telah habis. Rasa tergila-gila dan cinta pada seseorang tidak akan bertahan lebih dari 4 tahun. Jika telah berumur 4 tahun, cinta sirna. Menurutnya, rasa tergila-gila muncul pada awal jatuh cinta disebabkan oleh aktivasi dan pengeluaran komponen kimia spesifik di otak, berupa hormon dopamine, endorfin, feromon oxytocin, neuropinephrine yang membuat seseorang merasa bahagia, berbunga-bunga dan berseri-seri. Akan tetapi seiring berjalannya waktu, dan terpaan badai tanggung jawab dan dinamika kehidupan efek hormon-hormon itu berkurang lalu menghilang (www.detik.com Rabu, 09/12/2009 17:45 WIB). Sehingga dapat disimpulkan bahwa jika kita mencintai kemudian hanya ingin menghabiskan waktu dengan seseorang yang kita cintai tidaklah akan bertahan lama, mencintailah dengan tujuan besar di jalan Allah yang akan membuat kita senantiasa memiliki alasan untuk bersama.

Sekian, semoga tulisan saya bermanfaat untuk disampaikan kepada khayalak ramai.

Alhamdulillah saya mengikuti lomba menulis artikel. Ikut event ini jadi pengen lebih mendalami seperti apa sih halal lifestyle atau halal relationship dalam Islam secara mendetail.



Aku tak pernah kau anggap sebagai rumah

Di dunia yang ramai, terlalu banyak godaan Meski pada awal perjalanan kita diberi gambaran Melewati petunjuk berupa rambu-rambu yang memenuh...